Skip to content
September 9, 2018 / anisahnurfajarwati

Sampai Dimanakah Perjalanan Hijrah Kita

Nama tahun dalam Islam adalah Hijriyah. Hijriyah berasal dari kata hijrah, yaitu mengambil momentum saat hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Hijrah berarti berpindah. Seperti halnya hidup adalah perjalanan yang tentu saja berpindah. Lantas bagaimana hijrah yang sesungguhnya? Hijrah yaitu berpindah dari gelap menuju cahaya. Hijrah dari makruhah menuju mahbubah. Makruhah adalah segala hal yang dibenci Allah. Mahbubah adalah segala hal yang dicinta Allah.

Sudah selama ini kita hidup, sampai dimana perjalanan hijrah kita?

Contoh perbuatan mahbubah:

  • Berbuat baik dengan orang yang baik
  • Berbuat baik dengan orang yang tidak baik

Kedua contoh di atas adalah perbuatan mahbubah, poin (2) adalah mahbubah yang sangat dicintai Allah lebih dari cinta seseorang kepada orang yang baik.

  • Memberikan sesuatu yang paling kita suka kepada orang baik
  • Memberikan sesuatu yang paling kita suka kepada orang yang tidak kita suka

Hijrah kita belum sampai ke tujuan jika kita belum bisa berbuat mahbubah, karena tujuan hijrah adalah mahbubah.

Contoh perbuatan makruhah:

Gosip atau ghibah, Allah sangat membenci orang yang suka ghibah. Seperti firman Allah dalam QS. Al Hujurat ayat 12 menjelaskan bahwa orang yang suka ghibah bagai memakan bangkai saudaranya yang telah mati.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Jatah hidup kita sepanjang hari semakin pendek, oleh karena itu jangan kita gunakan untuk hal yang sia-sia apalagi untuk berbuat dosa. Selama hidup, kita harus terus berhijrah dan berusaha untuk bisa mencapai mahbubah.

Kisah zaman Nabi:

Ada seseorang yang telah membunuh 99 orang. Dia ingin bertaubat, dia bertanya-tanya apakah Tuhan akan mengampuni dosanya? Kemudia dia pergi menemui pendeta Yahudi. Lantas pendeta tersebut mengatakan bahwa dia tidak mungkin diampuni karena telah membunuh banyak orang. Si pembunuh yang mendengar jawaban pendeta tersebut merasa marah dan akhirnya ia membunuh pendeta tersebut. Total 100 orang yang telah ia bunuh. Setelah kejadian tersebut dia pergi menemui orang shaleh. Orang shaleh tersebut mengatakan bahwa si pembunuh boleh bertaubat dan menyuruh pembunuh tersebut untuk pergi ke perkampungan orang shaleh. Akhirnya si pembunuh pergi menuju perkampungan orang shaleh, namun di perjalanannya ia meninggal. Malaikat Rahmat dan Azab pun berdebat tentang si pembunuh tersebut. Apakah orang tersebut akan mendapat rahmat atau azab. Akhirnya diputuskan untuk mengukur jarak yang telah si pembunuh tempuh. Ternyata perjalanan si pembunuh lebih dekat ke perkampungan orang shaleh (menuju pertaubatan). Maka malaikat Rahmat segera membawanya.

Ibrah yang bisa kita petik dari kisah tersebut adalah ketika kita telah memumutusakan untuk berhijrah maka dekatkanlah ke arah mahbubah bukan stag di makruhah, karena kita tidak tahu kapan datangnya kematian.

Contoh lain perbuatan makruhah yang tanpa kita sadari adalah orang yang mendiamkan saudara sendiri, lalu tiga hari kemudian orang tersebut meninggal, maka neraka sangat dekat baginya. Perbuatan tersebut cenderung ke arah makruhah yaitu perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT.

Satu hal yang mebuat hijrah kita terasa berat dan tertatih adalah iman. Firman Allah tentang hubungan hijrah dan iman, adalah sebagai berikut:

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 218)

Dalam ayat tersebut terdapat kata aamanu dan haajaruu. Menunjukkan bahwa hijrah membutuhkan iman. Hijrah + iman = cahaya = mahbubah.

Sudahkah kita benar-benar beriman?

Saat kita hijrah, yang pertama kali harus benar adalah iman. QS. Al Ankabut 2 – 3 menjelaskan tentang ujian kebenaran iman.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (2) Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (3)” (QS. Al Ankabut: 2-3)

Seseorang dikatan beriman jika sudah teruji. Tujuan dari ujian tersebut adalah untuk mengetahui orang tersebut jujur atau dusta dalam imannya. Siapakah orang yang dusta dengan imannya? Ia adalah orang yang beriman tapi tidak percaya. Mana mungkin orang yang mengaku beriman namun tidak percaya kepada apa yang dia Imani. Contoh sederhananya adalah ia berani berbuat makruhah, padahal ia meyakini Allah pasti tahu apa yang ia perbuat. Ini adalah orang yang iman tapi tidak mengerti apa itu iman. Di penghujung QS. Al Ankabut ayat 45 firman Allah: wallahu ya’lamu ma tasna’un. (Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.)

Imankah kita bahwa Allah mengetahui apapun yang kita lakukan? Pernahkan kita melakukan satu perbuatan yang kita tahu Allah tidak menyukainya?

Percaya itu adalah yang membuat kita tidak berani melakukan apa yang tidak disuka Allah. Kalau kita tetap melakukan perbuatan yang tidak disuka Allah, padahal Allah tahu, itu namanya menentang atau menyepelekan keberadaan Allah. Berarti kita belum jujur kepada iman kita.

Firman Allah dalam QS At Tagabun ayat 11: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Imankah kita bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin Allah? Pernahkah kita kecewa, mangkel atau marah dengan satu kejadian yang menimpa kita?

Contoh: Kita kesal saat jalan ditutup, lantas bertanya ke warga sekitar mengapa jalan ditutup? Ternyata jalan ditutup atas seizin RW untuk kegiatan 17an. Akhirnya kita tidak jadi marah karena menghormati keputusan RW.

Jika kita iman kepada Allah maka kita taqdim (hormat). Jika kita taqdim maka jangan mengeluh dengan keputusan Allah. Di balik keputusan Allah pasti ada kebaikan. Jangan pernah kita mengingkari dan dusta dengan iman kita kepada Allah, karena azab Allah sangat pedih. Seperti yang difirmankan dalam QS. An Nisa’ ayat 56: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Kunci iman adalah Ikhlas. Bila belum ikhlas dalam beriman maka iman tidak akan sepenuhnya masuk ke dalam hati.

Contoh: ada seorang wanita berbelanja banyak barang, namun ketika sampai di kasir dia baru menyadari kalau dompetnya tertinggal di rumah. Lantas dia meminta izin kepada petugas kasir untuk kembali pulang mengambil dompetnya. Permasalahan yang ada solusinya, namun jika sudah meninggal lalu ditanya malaikat: “man Rabbuka?” pertanyaan tentang iman, dan tidak bisa menjawab maka tidak akan bisa kembali ke dunia. Mereka berkata: “Ya Allah kembalikan kami ke dunia”.

Mulai dari sekarang hendaknya menjadi orang yang ikhlas, karena ikhlas adalah kunci iman. Perlahan tapi pasti iman akan masuk ke dalam hati. Ikhlas menyelesaikan semua masalah maka semua masalah akan jadi kebaikan. Iman itu kita ikhlas, jika tidak maka sia-sia iman kita.

Dirangkum dari materi yang disampaikan oleh Ust. Syatori Abdul Rauf dalam Pengajian Umum Ahad Pagi Ikadi di Masjid Baiturrahmah Kota Kediri, 9 September 2018.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: