Skip to content
September 7, 2018 / anisahnurfajarwati

I T S A R

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak boleh terlalu cuek, tidak peduli bahkan egois. Islam mengajarkan bahwa hendaknya seorang muslim memiliki sifat itsar. Apa itu itsar? Itsar adalah menempatkan kepentingan orang lain melebihi kepentingan sendiri. Itsar juga berarti mencintai dan mendahulukan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.  Mendahulukan orang lain dalam kegembiraan, kebahagiaan dan kesenangan.

Sebagai salah satu contoh ada dalam QS Al Hasyr ayat 9 yang merupakan pujian Allah SWT kepada kaum Anshar Karen amemiliki sifat itsar:  “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” 

Kandungan ayat ini mengisahkan tentang Kaum Anshar (orang-orang Madinah) yang menanti dan menolong Rasul beserta Kaum Muhajirin (dari Mekkah). Namun, tidak semua orang Madina tergolong Kaum Anshar. Ada salah seorang tokoh Madinah yang tidak mau menolong Rasul dan Kaum Mujahirin, ia adalah Abdullah Bin Ubay Bin Salul. Kita tidak akan membahas tentang Abdullah Bin Ubay Bin Salul, tapi tentang itsar yaitu pengorbanan Kaum Anshar yang lebih mengutamakan menolong Rasul dan Kaum Muhajirin melampaui diri mereka sendiri. Rasul hijrah terakhir saat ke Madinah. Beliau datang ke Madinah untuk mempersaudarakan Kaum Muhajirin dengan Kaum Anshar dan juga antar Kaum Anshar dengan ikatan akidah.

Contoh lain dari perbuatan itsar yant patut kita tauladani dari  sahabat Nabi adalaha ketika Perang Yarmuk. Di saat Perang Yarmuk, (perang melawan Romawi) dipimpin oleh Khalid Bin Walid dan tiga panglima antara lain Al Harits Bin Hisyam, Ikrimah Bin Abu Jahl, Ayyasy Bin Abi Rabi’ah. Karena peperangan mereka bertiga terkapar terkuras energinya. Kemudian Haris meminta minum. Di saat iya meminta minum iya melihat Ikrimah, kemudian menyuruh memberikan minuman tersebut kepada Ikrimah. Saat diberikan minum kepada Ikrimah, Ikrimah melihat Suhaimi. Maka Ikrimah meminta untuk memberikan minuman tersebut kepada Suhaimi. Ketika orang tersebut sampai ke Ayyasy ternyata sudah meninggal disusul dengan Ikrimah dan Haris.

Di dalam QS Al Insan ayat 8 juga telah dijelaskan tentang sifat itsar: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.”  Pembagian Itsar menurut Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin adalah sebagai berikut:

1. Diharamkan

  • untuk menolong dalam keburukan
  • untuk kebaikan jika itu dalam hal wajib. Dalam hal ibadah wajib, harus mendahulukan diri sendiri. Contoh: kita memiliki air wudhu yang hanya cukup untuk diri kita sendiri, dan kita dalam kondisi belum berwudhu, maka kita harus mendahulukan diri kita untuk berwudhu dengan air tersebut. Kita tidak dihukumi tayamum jika air yang kita miliki cukup untuk digunakan berwudhu meski ada orang lain yang belum berwudhu.

2. Dibolehkan tapi bersyarat, untuk hal-hal yang sifatnya mustahab (sunnah)

Contoh: meremehkan sisi afdholiyah yang ditetapkan syariah tentang shaf sholat. Mengutamakan untuk menempati tempat yang utama. Kita telah berada dalam posisi shaf pertama, kemudian orang tua kita datang dan mempersilakan mereka menmpati shaf pertama, ini sebagai bentuk ketaqdiman (penghormatan).

3. Dianjurkan, berkaitan dengan sifat-sifat bendawi yang hukumnya ibahah atau mubah.

Contoh: ada suguhan kue, dan kita sangat ingin memakannya namun hanya tingga satu potong. Dalam kondisi itu ada orang lain bersama kita, maka kita mendahulukan orang lain tersebut untuk memakan kuenya.

Kisah Sahabat Nabi:

Umar Bin Khatab bergelar Amirul Mukminin. Saat turun ke masyarakat, Umar pergi bersama ajudannya yang bernama Aslam. Umar tidak sengaja mendengar percakapan Ibu dan anak perempuan. Mereka adalah penjual susu. Karena keputusasaannya sang ibu mengajaka anaknya untuk berbuat curang yaitu dengan mencampurkan air ke dalam susu. Namun sang anak tidak setuju karena ia merasa takut dengan Tuhan-nya Umar. Setelah mendengar hal tersebut Umar meminta Asalm untuk menandai rumah penjual susu tersebut. Umar lantas pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tersebut kepada Ashim Bin Umar. Umar meminta Asyim untuk menikahi anak gadis penjual susu. Asyim pun bersedia. Mereka dikarunia keturunan yang kelak akan menjadi pemimpin besar, ia adalah Umar Bin Abdul Aziz.

Umar Bin Abdul Aziz bergelar Amirul Mukmini adalah Khulafaur Rasyidin ke 5, orang yang bersih dan hartanya terjaga. Dia adalah Gubernur di Mesir yang kemudian diangkat sebagai pemimpin di seluruh wilayah Islam. Saat ditunjuk sebagai pemimpin dia merasa tidak meminta dan tidak meminta jabatan tersebut. Dia mengatakan, adakah orang yang layak untuk dijadikan pemimpin yang tawaduk selain dirinya. Setelah dibaiat, di amenerima dengan hati yang berat, dengan hati yang takut kepada Allah SWT. Maka dia pulang dengan tergesa-gesa. Umar Bin Abdul Aziz langsung mengumpulkan Istri dan anak-anaknya kemudian menyuruh meraka untuk mengumpulkan semua harta yang diperoleh saat menjadi gubernur untuk diserahkan ke baitul Mal.

Dirangkum dari materi yang disampaikan oleh Ust. Muhammad Hatta dalam Kajian Ngaji Kita di Masjid Al Ikhlas Katang Kab. Kediri, 29 Agustus 2018.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: