Skip to content
September 6, 2018 / anisahnurfajarwati

Abu Ubaidah Bin Al Jarrah

Alhamdulillah, hari Selasa (4 September 2018) kemarin diberikan nikmat sehat sehingga bisa menghadiri majelis rutin mingguan ☺☺☺. Majelis kali ini membahas Shiroh Nabawi, bercerita tentang sosok sahabat Nabi yang berkarakter tenang dan menenangkan yaitu Abu Ubaidah Bin Jarrah.

Diceritakan bahwa Abu Ubaidah adalah seorang yang sangat penasaran dengan siapa Rasul sesungguhnya. Suatu hari karena rasa penasarannya, ia menghadiri majelis Rasul dan langsung merasakan ketenangan dan kenyamanan. Di majelis tersebut, tanpa sengaja kedua matanya bertatapan dengan mata Rasul. Sejak kejadian itu, Abu Ubaidah memutuskan untuk masuk Islam dan mengikuti Rasulullah. Dia adalah orang yang setia mengikuti Rasul dalam peperangan dan dakwah. Dia juga termasuk 10 sahabat Nabi yang dijamin masuk Surga. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap umat memiliki orang tepercaya, dan kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR. al-Bukhari Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

Abu Ubaidah Bin Al Jarrah memiliki beberapa sifat yang patut kita teladani, antara lain sebagai berikut:
1. Memiliki sifat yang mampu membuat konflik jadi cantik artinya dia mampu meredakan konflik, terutama konflik batin.
Diceritakan bahwa saat Perang Badar, dia bertemu ayahnya di medan pertempuran sebagai lawan. Saat itu dia berperangg untuk Islam, namun sang ayah adalah seorang kafir quraish. Ada rasa khawatir dalam benaknya, jika nanti teman seperjuangan tidak berani membunuh ayah Abu Ubaidah karena merasa tak enak hati padanya. Akhirnya, karena kecintaannya kepada Allah dan Rasul dia rela membunuh ayahnya. Dia lebih mementingkan hubungan ukhuwah Islamiyah daripada hubungan senasab (hubungan dengan ayah kandungnya).
2. Mampu menahan emosi.
Saat Perang Dzatu Salasil (perang melawan Romawi), Amar Bin As ditunjuk sebagai panglima perang. Setibanya di wilayah perang, Amr Bin Ash mengintip pasukan Romawai yang ternyata jumlahnya lebih banyak daripada pasukannya. Amr Bin Ash menyuruh salah seorang pasukan kembali menghadap Abu Bakas As Shiddiq untuj meminta tambahan pasukan. Lantas Abu Bakar Ash Siddiq memerintahkan Abu Ubaidah untuk menjadi panglima perang menggantikan Amr Bin Ash. Abu Ubaidah berangkat ke medan perang dengan membawa tambahan 200 pasukan. Sesampainya di medan perang, Abu Ubaidah menemuin Amr Bin Ash namun tidak langsung mengatakan bahwa ia diminta menjadi panglima pengganti oleh Abu Bakar. Dia lebih memilih menahan egonya untuk menunggu waktu yang tepat karena saat itu ia melihat bahwa Amr Bin Ash tidak mau diganti. Abu Ubaidah menunggu hingga situasi reda baru menyampaikan pesan Abu Bakar kepada Amr Bin Ash.
3. Mampu dan berani mengambil resiko.
Saat Perang Uhud, pertahanan kaum muslim goyah sehingga memudahkan musuh untuk masuk. Saat itu pula Rasulullah terkena anak panah yang menembus gigi hingga pipi. Abu Ubaidah dengan berani mengambil resiko untuk mencabut anak panah tersebut dengan giginya karena kalau dilakukan dengan tangan, khawatir akan melukai Rasul. Darah pun bercucuran dan kondisi Rasul membaik. Meski Abu Ubaidah harus kehilangan giginya tapi dia bahagia dan tenang.
4. Mampu melejit dalam kondisi yang sulit (menenangkan).
Abu Ubaidah mampu meredakan dan menenangkan situasi supaya tidak terjadi perpecahan antara kaum Anshor dan Muhajirin saat memutuskan khalifah setelah Rasulullah wafat.
Di bawah kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq terjadi Perang Yarmuk. Dalam peperangan tersebut, awalnya yang manjadi panglima adalah Khalid Bin walid. Lalu Abu Bakar meminta Abu Ubaidah membawa pasukan untuk membantu Khalid Bin Walid. Tak hanya itu, Abu Ubaidah diutus Abu bakar untuk menggantikan Khalid Bin Walid sebagai panglima. Namun, karena sifat Abu Ubaidah yang tenang dia tidak mau buru-buru menyampaikan pesan kepada Khalid Bin Walid. Setelah perang usai, dan dimenangkan oleh umat Islam, Khalid Bin Walid meminta pertimbangan Ubaidah tentang penanganan terhadap musuh perangnya yang kalah. Khalid memutuskan untuk dijadikan tawanan, namun Abu Ubaidah menginginkan untuk damai yaitu dengan dijadikan saudara. Hingga akhirnya Abu Bakar meninggal, Abu Ubaidah belum juga menyampaikan pesan kepada Khalid Bin Walid (pesan Abu Bakar, menunjuk Abu Ubaidah sebagai panglima menggantikan Khalid Bin Walid). Umar Bin Khatab yang mengetahui hal tersebut akhirnya memintanya untuk segera memnyampaikan pesan kepada Khalid Bin Walid. Khalid pun dengan keikhlasan hatinya menyerahkan jabatan tersebut kepada Abu Ubaidah Bin Al Jarrah dan setia menemani Abu Ubaidah dalam setiap peperangan.

Nilai-nilai apa saja yang bisa kita petik dari seoran Abu Ubaidah Bin Al Jarrah? Antara lain sebagai berikut:
1. Cepat merespon kebaikan. Berbuat baiklah kamu, karena sebenarnya perbuatan baik itu untuk dirimu sendiri.
2. Memiliki visi yang kuat. Karena tanpa ilmu, tidak akan menimbulan amal.
3. Mampu mengolah perbedaan menjadi kekuatan.
4. Selalu memberikan manfaat untuk orang lain dan lingkungan.

Wallahu A’lam Bishawab

Sebagi bahan pelengkap referensi silakan tonton video berikut:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: