Skip to content
September 2, 2018 / anisahnurfajarwati

King (2009)

 

King. Awal mendengar film ini saya tidak cukup tertarik menontonnya karena waktu itu saya sedang di perantauan jauh dari orang tua dan sanak saudara, jadi harus berhemat dan akses internet tentu tidak semudah saat ini. Saya tahu ini film tentang bulutangkis dan mengira bahwa film ini adalah autobiografi pebulutangkis legend Indonesia yaitu Liem Swie King. Ternyata tidak. So… saya tidak begitu penasaran dan lupa begitu saja… Saya tertarik menonton film ini setelah tahu bahwa ada dua atlet kebanggaan Indonesia yang baru saja meraih medali emas di Asian Games 2018 yaitu Jonathan Christie dan Kevin Sanjaya. Saya tidak tahu mereka berperan sebagai apa, yang saya tahu mereka adalah atlet muda gemilang kebanggaan Indonesia yang siap berlaga dalam turnamen-turnamen bulutangkis selanjutnya. Akhirnya rasa penasaran ini lah yang menggerakkan jemari untuk berselancar ke dunia maya mencari film King dan ketemu!. Oh ya, selain dua atlet muda tersebut ada para legend lain yang membuat saya senyam-senyum bahagia (wkwkwkwkw) tentu ada Liem Swie King, Ivana Lie, Maria Kristin, Rosiana Tendean, Hastomo Arbi, dan yang paling membuat bahagia adalah ada Harianto Arbi si pemilik smash 100 watt. Hahaha dulu nge-fans banget sama Kakak yang satu ini. Masih ingat betul, dulu sampai ikut tegang teriak-teriak saat dia berlaga menjadi penentu dalam kejuaraan beregu piala Thomas tahun 1996 melawan Denmark dan Alhamduliilah menang. Waktu itu gak tahu bagaimana sistem penilaianan… pokonya menang aja hihihihi.

Ok kembali ke film King. Film ini adalah dedikasi untuk para legend di cabang olah raga Bulutangkis yang digarap oleh rumah produksi Alenia Pictures. Seperti film karya Alenia sebelumnya (Denias, Senandung Di Atas Awan), film ini memiliki alur cerita yang khas. Menceritakan perjuangan seorang anak yang tinggal di wilayah pelosok Indonesia untuk meraih cita-cita. Tentu saja visual kita akan dimanjakan oleh pesona kekayaan alam bumi Indonesia, khususnya di wilayah ujung timur Pulau Jawa tepatnya di Banyuwangi.

Film ini mengisahkan perjuangan Guntur yang diperankan oleh aktor cilik Rangga Raditya. Guntur adalah seorang anak piatu yang tinggal di pelosok Banyuwangi tepatnya Desa Jampit, Kecamatan Sempol, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pertandingan bulutangkis adalah hiburan favorit di kampung Guntur. Setiap kali ada pertandingan bulutangkis di TV, selalu diadakan nobar dan ayah Guntur adalah komentator bulutangkis yang handal di kampungnya. Ayah Guntur bernama Tejo (diperankan oleh Alm Bpk. Mamiek Prakoso), ia sangat mencintai bulutangkis dan penggemar berat Liem Swie King. Sehari-hari Pak Tejo bekerja sebagai pengumpul bulu unggas. Bulu unggas yang telah terkumpul dijual ke pabrik shuttlecock yang terletak di sebelah Club Banyutumangkis, Club Bulutangkis ternama di Banyuwangi.

Awal cerita menggambarkan situasi kampung yang sedang melaksanakan pertandingan bulutangkis. Di final, Guntur yang kecil harus melawan Mas Raino (diperankan oleh Ariyo Wahab) dan dia kalah. Ayahnya Guntur berharap ia yang menang supaya seperti King (Liem Swie King) yang menang bertanding melawan orang dewasa. Makanya Guntur diberi julukan King Guntur oleh Pak Tejo. Karena kekalahannya Guntur dihukum Pak tejo, squat jump 100x dan lari keliling pohon besar sebanyak 50 kali. Pak Tejo mempunyai impian, suatu saat ingin melihat Guntur menjadi atlet bulutangkis yang menjuarai kejuaraan dunia. Ayah Guntur sangat mencintai bulutangkis, kemana-mana ia kenakan jaket bertuliskan INDONESIA di bagian punggung.

Guntur memilik seorang sahabat yang bernama Raden (diperankan oleh Lucky Martin). Raden sangat setia dan bangga atas bakat yang dimiliki Guntur. Dia rela melakukan apa saja agar Guntur bisa menang dalam pertandingan bulutangkis. Suatu hari ada pertandingan antar sekolah di Kelurahan yang memperebutkan piala. Raden membujuk Guntur untuk ikut serta dalam pertandingan tersebut, dia berkata bahwa di dalam piala tersebut terdapat sejumlah uang. Awalnya Guntur menolak karena raket miliknya yang terbuat dari kayu sudah bengkok. Namun, akhirnya Guntur mau dan dia bertekad menang supaya dia bisa membeli raket baru dengan uang yang ada di dalam piala tersebut.

Di pertandingan kampung selanjutnya Guntur melawan Mas Raino. Kali ini Guntur bermain dengan menggunakan raket Mas Raino, namun tetap saja ia kalah. Raden bilang di pertandingan kampung tersebut, jika Guntur berhasil menang melawan Mas Raino, Mas Raino akan meminjamkan raket nya untuk Guntur gunakan di pertandingan tingkat kelurahan. Sayang Guntur kalah, dan dia harus menerima hukuman squat jump dari bapaknya karena dianggap berani menantang orang tua dan sombong. Keterbatasan biaya membuat Pak Tejo tak mampu hanya sekadar untuk membeli raket baru untuk Guntur, raket yang lama terbuat dari kayu dan sudah bengkok. Tanpa sepengetahuan Guntur dan atas belas kasih tetangganya yaitu Mas Raino, Pak Tejo meminjam raket dengan menukar TV (harta berharga miliknya).

Tiap hari dia latihan ditemani Raden yang setia. Kendala Guntur adalah dia tidak memiliki raket yang bagus. Akhirnya Raden datang dengan membawa raket pinjaman dari Mas Raino, dan sudah dapat dipastikan bahwa cerita selanjutnya adalah Guntur berhasil menjadi juara dan berhak melaju ke pertandingan selanjutnya. Karena telah memutuskan senar raket milik Mas Raino. Raden menyalahkan Guntur karena men-smash terlalu keras dan mengakibatkan senarnya putus, Guntur tidak terima lah…. Namanya bertanding yang harus keluarkan tenaga ekstra supaya menang.Hahahaha… Raden dan Guntur mencari cara supaya bisa mengganti senar raket, mulai dari mengambil senar gitar Mas Bujang (diperankan oleh Asrul Dahlan) sampai-sampai harus mencuri senar penjual balon. Tetap saja tak berhasil membuat raket itu membaik. Akhirnya Guntur pun dihukum squat jump oleh Pak Tejo disaksikan Mas Raino, Mas Bujang dan penjual balon.

Saat bermain di padang rusa, tanpa sengaja Raden dan Guntur melihat seorang wanita bersama anaknya sedang dalam kesulitan. Akhirnya mereka berdua membantu Ibu dan anak tersebut. Tak disangka pemeran gadis cilik itu adalah Valerie Thomas, ia berperan sebagai Michelle. Michelle dan ibunya pindah dari Jakarta ke Banyuwangi. Adegan Guntur pertama kali bertemu dengan Michelle mengingatkan saya pada adegan saat Denias bertemu Pevita Pearce (lupa dulu dia berperan sebagai siapa). Keesokan harinya, karena penasaran Raden mengajak Guntur untuk pergi ke rumah Michelle. Di rumah tersebut tinggallah Michelle dengan ibunya yang diperankan oleh Wulan Guritno dan satu asisten on call yang juga tetangga Guntur yaitu Mas Untung yang diperankan oleh Argo “AA Jimmy”. Di sana mereka melihat Michelle menggebuk kasur dengan raket bulutangkis -o-. Muncullah ide Raden untuk mendekati Michelle dan berhasil. Mereka bertiga menjadi akrab dan sering bermain bersama. Di salah satu adegan, Guntur membantu Michelle untuk menebah kasur dengan raket (duhhh emaneeee), Guntur seperti gak tega gitu. Raden pun datang membawa penebah kasur milik neneknya dan menukar dengan raket milik Michelle, dengan tujuan raket Michelle untuk Guntur bertanding. Guntur tidak bersedia menggunakan raket milik Michelle tanpa izin. Akhirnya Raden bercerita kepada Michelle kalau Guntur sedang mengikuti pertandingan bulutangkis di Kelurahan dan memerlukan raket yang bagus.

Tibalah saat pertandingan, Guntur masih memegangi raket kayu bengkok miliknya, lalu muncullah Michelle dan Raden membawa raket untuk Guntur. Yupp… Guntur menang dan berhak atas piala tersebut. Dia sangat bahagia. Alih-alih kebahagiaan yang dia rasakan, justru kekecewaan karena tidak menemukan sepeser uang di dalam piala tersebut. Lantas ia membuang pialanya dan sedih. Begitu sampai di rumah, tidak cukup dengan rasa kecewa yang dirasakan. Pak Tejo juga memarahinya. Pak Tejo lebih merasa tenang dan baik apabila Guntur kalah daripada menang tapi harus membuat orang lain susah (Nenek Raden kehilangan penebahnya, Mas Untung dimarahi majikannya karena tidak bias menjaga barang). Kekecewaan Guntur terhadap bapaknya semakin menjadi, tatkala Pak Tejo terus menerus ngomel. Dia menganggap bahwa bapaknya hanya bisa marah dan menghukum. Keesokan harinya karena masih kesal dan marah, Guntur menghamburkan bulu-bulu unggas yang telah dikumpulkan Pak Tejo ke jalan. Di saat itu muncullah Mas Raino yang mengembalikan TV Pak Tejo, Mas Raino memberi tahu Guntur tentang pengorbanan apa saja yang telah dilakukakn Pak Tejo untuknya. Guntur pun menyesal. Sejak kejadian tersebut, Pak Tejo enggan menjadi komentator bulutangkis dan Raden pun jarang bermain dengan Guntur.

Entah dapat ide dari mana, Raden mengikuti Pak Tejo mengirim bulu unggas ke Club Banyutumangkis, club badminton di Banyuwangi. Di club tersebut, Raden melihat serunya anak-anak berlatih bulutangkis. Dia membaca pengumuman penerimaan anggota baru di Club Banyutumangkis. Raden mengajak Michelle mengamen di Banyuwangi untuk mengumpulakan uang yang akan digunakan untuk mendaftar di Club Banyutumangkis atas nama Guntur. Karena waktu pendaftaran yang mepet dan Guntur masih marah, akhirnya Raden menggantikan posisi Guntur berlatih di club tersebut. Di club para peserta dilatih oleh Pak Herman (diperankan oleh Surya Saputra). Latihan dilakukan seminggu 3x setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu. DI saat latihan, Raden tidak seahli Guntur, bermain skipping aja dia kualahan (nahhh disni ni si Jojo mulai keluar dengan gaya songongnya emot). Suatu hari Nenek Raden (diperankan oleh Yati Surachman) mencari Raden ke rumah Guntur, dia marah-marah karena tidak suka kalau Raden harus bersusah payah berlatih bulutangkis seperti Guntur. Atas info dari Michelle, Guntur lantas pergi ke Club Banyutumangkis untuk mencari Raden dan menemukannya sedang berlatih di Club tersebut. Raden sedang berlari mengelilingi lapangan bersama peserta lainnya lalu Guntur memanggilnya dan membertitahu bahwa Nenek mencarinya. Pelatih yang melihat mereka berdua, menegur dan memanggil Guntur, lantas Guntur menjawab “Guntur saya Pak!” wkwkwkwk. Sejak saat itu Guntur berlatih rutin di Club Banyutumangkis dengan raket milik Michelle.

Seiring berlatih di club, hubungan Guntur dengan bapaknya pun membaik. Guntur menempuh jarak kiloan meter dari Desa Jampit menuju Club Banyutumangkis yang terletak di pusat kota dengan sepeda milik Raden. Nah… di club inilah Guntur bertemu Arya yang tidak lain diperankan oleh Jonathan Christie (aw aw aw). Di film ini Jonathan Christie berperan sebagai teman Guntur yang egois, sombong dan sedikit arogan. Arya merasa Guntur adalah pesaing beratnya untuk bisa dikirim ke PB Djarum Kudus (tempat pemain-pemain bulutangkis terbaik negeri ini dilahirkan). Persaingan sengit terlihat jelas di antara Guntur dan Arya. Maklum saja karena hanya ada dua pemain terbaik yang dikirim ke Kudus. Setelah selesai berlatih Guntur duduk sendiri dan Pak Herman menghampirinya. Pak Herman memberikan motivasi dan bercerita tentang King (Liem Swie King) yang dahulu bekajar bulutangkis diajari oleh ayahnya sendiri sebelum masuk ke club. Kemudian dia melihat sepatu yang Guntur pakai lantas mengatakan bahwa: “di dunia ini gak ada yang gak bisa, siapapun bisa jadi juara dan berhasil asalkan dia mau berlatih dan disiplin”. Ketika mau pulang ternyata ban sepeda Guntur bocor, bukannya menolong, Arya justru mengatakan bahwa sebaiknya Guntur mencari club lain yang lebih dekat, club Banyutumangkis terlalu jauh dan membuat ban sepedaa rusak apalagi itu sepeda pinjaman dari Raden. Guntur sampai di rumah dengan lesu dan langsung menuju kamar.

Keesokan harinya Pak Tejo pergi untuk mengganti ban sepeda dan memperbaiki senar raket Guntur. Guntur tidak tahu, sehingga dia berlari menuju club dan akhirnya terlambat. Di tengah-tengah latihan, Pelatih menegur Guntur karena tidak konsentrasi (senar raketnya putus). Begitu sampai di rumah Guntur sangat bahagia melihat ban sepeda yang telah diganti dan mas Raino yang menyerahkan raket untuknya. Ternyata apa yang dikatakan Mas Raino benar bahwa Pak Tejo sangat memperhatikan dan menyayanginya. Guntur pun rajin berlatih baik saat di club maupun di luar club dengan ditemani sahabat setianya Raden dan Michelle. Latihan terasa seru karena diiring dengan bermain bersama sahabat setia, berlarian di padang rusa, di sekitar kawah ijennn… uwouwouwo…

Tibalah waktu untuk pengumuman. Guntur dan Arya berhasil menuju Kudus. Kendala Guntur selanjutnya adalah biaya. Bapaknya tidak mempunyai cukup uang untuk ongkos ke Kudus. Kata-kata haru yang diucapkan Pak Tejo pada Guntur: kalah menang kamu tetap anakku, benar salah kamu tetap anakku (kurang lebih seperti itu)… Akhirnya Pak Tejo memutuskan untuk menjual sepeda motornya demi untuk membiayai Guntur. Pak Lurah (diperankan oleh Wawan Wanisar) mengetahui hal tersebut dan meminta Mas Bujang untuk mengantar Guntur dengan mobil pick up miliknya. Tentu Bujang mau tapi dengan syarat yaitu setengah dari biaya bensin ditanggung Pak Lurah. Deal!!!. Akhirnya Guntur berangkat ke Kudus diantar Mas Bujang.

Nah… setelah sampai di PB Djarum, Guntur masuk gedung dan melihat-lihat foto yang tertempel di dinding. Ada foto para legend bulutangkis Indonesia dan tentu saja ada foto Liem Swie King. Scene yang paling membuat saya mesam-mesem (wkwkwk) adalah ketika Harianto Arby mendatangi Guntur yang sedang bergaya mengayunkan raketnya. Guntur ditanya tentang nama dan asal club, lalu Hariyanto pergi. Hmmm… Mas Bujang pun menghampiri Guntur dan memberitahunya bahwa yang tadi menanyainya adalah Hariyanto Arbi. Selanjutnya, Guntur antri di barisan peserta untuk daftar ulang, ia ditolak panitia karena tidak membawa surat pengantar dan tidak didampingi pelatih. Untungnya Pak Herman datang dan menitipkan Guntur ke Harianto Arby. Haahhh agak sedih sih, Pak Herman pergi bersama mobil keluarga Arya dan meninggalkan Guntur.

Seleksi awal dimulai. Diiringi suara Hariyanto Arby: “Bulutangkis adalah bagaimana menghargai lawan, pelatih, wasit dan penonton, dan yang paling penting dalam bukutangkis adalah bagaimana kita mengalahkan diri kita sendiri.” Selama seleksi awal (belum masuk asrama), Guntur dan Mas Bujang tidur di mobil. Pengumuman tiba, Guntur dan Arya lolos ke tahap selanjutnya dan berhasil masuk asrama. Saat perpisahan, Pak Herman meilihat Guntur dan mengahdiahinya sepatu baru. Mas Bujang pun berpamitan dan berpesan kepada Guntur bahwa dia hanya bisa mengantar sampai disitu saja, lalu dia pulang ke Banyuwangi meninggalkan Guntur di PB DJarum.

Guntur berlatih dengan giat dan disiplin di PB DJarum. . Nahhh… di adegan latihan, Kevin Sanjaya muncul sekian detik saja (hihihi). Di sela-sela latihan Guntur menyempatkan diri berkunjung ke perpustakaan, di sana ia menemukan album foto yang berisi foto Liem Swie King dan foto kedua orangtuanya. Yup… foto yang sama persis dengan yang dipajang di dinding rumah Guntur. Dari sekian banyak peserta hanya dipilih 20 peserta untuk bisa terus berlatih di PB Djarum. Lagi dan lagi, Guntur harus bertanding melawan Arya. Selama bertanding terbanyang orang-orang yang telah berjasa mengantarkan ia sampai ke titik itu. Dia tidak mau membuat mereka kecewa. Sayang sungguh sayang, Guntur kalah dari Arya skor terakhir 19-21 untuk Guntur. Guntur pulang ke Banyuwangi dengan perasaan campur aduk. Was-was apakah diterima dan berhasil mewujudkan impiannya. Pengumuman untuk seleksi ini akan dikirm via POS.

Raden dan Michelle membantu Guntur membuat petunjuk arah dan kotak POS yang bertuliskan “rumah Guntur” supaya Pak POS tidak tersesat. Hari demi hari dia menanti surat dari PB Djarum yang tak kunjung datang. Di tengah keputus-asaannya, dia bertengkar dengan Raden dan Michelle. Tanpa sadar dan dalam keadaan emosi dia merusak kotak POS yang telah terisi surat yang dinantinya. Pak Tejo pulang dan memberdirikan kotak POS yang ringsek dan menemukan surat tersebut. Beliau sangat bahagia. Guntur sangat bahagia dan langsung membawa surat tersebut untuk ditunjukkan kepada Raden. Di rumahnya Raden tidak ada, ternyata Raden berada di atas pohon dan masih saja kesal, marah dan seakan tidak peduli dengan apa yang dikatakan Guntur.

Tiba saatnya Guntur berangkat ke Kudus untuk meresmikan statusya sebagai angota PB DJarum. Seluruh warga desa mengantarkan kepergiannya, termasuk Michelle. Guntur memberikan kenang-kenangan kepada Michelle berupa ukiran belerang yang berbentuk kok. Guntur sedih karena tidak melihat sahabatnya Raden. Kali ini Guntur diantar oleh Mas Bujang, Pak Tejo dan satu lagi orang yang sangat dinanti kehadirannya yaitu Raden. Raden sengaja memberi kejutan dengan bersembunyi di bagian belakang mobil dan membawa piala pertama Guntur. Guntur tampak bahagia sekali karena sahabat setianya bisa turut menyaksikan keberhasilannya menjadi anggota PB DJarum. Nah…  dari 20 anak yang terpilih tersebut ada Kevin Sanjaya…wkwkwkkw. Saat nama Guntur dipanggil, Raden malah pingsan hahaha, mungkin dia lelah. Akhir cerita keahlian Guntur di bulutangkis semakin mantap. Dia juga menjuarai kejuaraan Asia U-16 seperti yang dicita-citakan Pak Tejo. End

Film ini bagus sekali. Mengisahkan bagaimana keterbatasan bisa ditembus dengan semangat dan kerja keras. Tidak perlu banyak alasan untuk bisa meraih apa yang kita cita-citakan. Seperti yang dikatakan Liem Swie King: “Raihlah mimpimu, kejarlah citamu, jangan pernah menyerah untuk menjadi yang terbaik”. Film ini juga memenangkan Piala citra FFI 2009 sebagai tata musik terbaik yang digarap oleh Aksan Sjuman dan Titi Rajo Bintang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: