Skip to content
February 5, 2014 / anisahnurfajarwati

BURUKNYA SISTEM PENGELOLAAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH DI WANA WISATA GUNUNG KLOTOK KEDIRI

Sampah di kawasan objek wisata menjadi permasalahan serius yang harus segera ditangani agar wisatawan mau datang berkunjung untuk berwisata. Untuk itu, selain pemerintah daerah, masyarakat umum dan LSM diminta ikut aktif melakukan penanganan sampah. Sampah merupakan masalah klasik dari dulu sampai kini yang masih juga menghantui pemandangan di lingkungan sekitar kita. Juga di tempat wisata. Orang pada umumnya berwisata untuk menghibur diri, mengurangi rasa jenuh oleh rutinitas harian, mencari inspirasi, bahkan ketenangan dan keteduhan batin. Untuk mencapai itu semua, sudah sewajarnya kita ingin mengunjungi tempat wisata yang nyaman dengan ditunjang kebersihan lingkungan yang asri, teduh dan indah. Akan tetapi di balik semua harapan tersebut, masih sering dijumpai adanya tempat tujuan wisata yang ternodai oleh serakan atau tumpukan sampah yang justru sangat merusak pemandangan dan sangat mengganggu kenyamanan pengunjung.

Tempat wisata yang tujuannya menarik wisatawan dari luar kota atau dari wisatawan asing untuk meningkatkan devisa dan pendapatan daerah, seringkali masalah kebersihan dan sampah terlupakan. Mulai dari jalur pedestrian di kawasan wisata tersebut yang kotor, sampah di mana-mana, sampai dengan di objek/pusat wisata yang dituju, sampah masih banyak terlihat. Permasalahan yang terjadi di lapangan tidaklah sesederhana apa yang dibayangkan. Di samping ketiadaan tempat sampah yang memadai, hal terpenting yang belum ada adalah belum adanya sistem penanganan sampah yang baik, serta kesadaran masyarakat, baik pengunjung, pelaku usaha, serta stakeholder di lapangan yang masih rendah sehingga seringkali melakukan pembuangan sampah secara sembarangan (Monthly Disscussion, Kompasiana, Sabtu 4 Agustus 2012).

Pariwisata merupakan bisnis bersama yang memerlukan partisipasi aktif semua pihak yang terlibat. Termasuk persoalan sampah di tempat wisata. Keberadaan sampah yang berserakan dan tidak tertangani dengan baik tentu akan menjadikan tempat tersebut kotor, kumuh, berbau dan berujung kepada merosotnya citra pariwisata.  Bila citra pariwisata jelek, sudah pasti akan sangat berpengaruh kepada jumlah kunjungan wisatawan yang selanjutnya akan berdampak kepada meredupnya bisnis kepariwisataan yang terkait. Tempat wisata sepi, pedagang merugi, penginapan tidak ada pengunjungnya, dan seterusnya yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat luas.

Gunung Klotok adalah salah satu gunung yang terdapat di dekat kaki Gunung Wilis. Gunung ini terletak di Mojoroto, Kediri. Ada yang mengatakan bahwa Klotok sebenarnya adalah salah satu bukit dari Gunung Wilis, karena banyak didatangi orang, dan lumayan jauh dari Gunung Wilis itu sendiri, kebanyakan orang menyebutnya dengan Gunung Klotok. Keunikan gunung ini adalah bentuknya menyerupai sosok perempuan yang sedang tidur (Gambar 1.).

1

Gambar 1. (1) Panorama Gunung Klothok dari wilayah timur Kota Kediri; (2) & (3) Panorama GUnung Klothok dari persawaah di Desa Pojok Kediri

Sumber: (1) http://www.panoramio.com/photo/35661374; (2) http://sos-kediri.blogspot.com; (3) http://kediriholic.wordpress.com

Kawasan wana wisata Gunung Klotok saat ini telah dikembangkan sebagai wisata keluarga. Kawasan wisata kaki Gunung Klotok terdiri dari beberapa objek wisata yang menjadi satu kesatuan wana wisata Gunung Klotok, yaitu: Museum Airlangga, water park, wisata Goa Selomangleng, wahana perminan (Gambar 2.). Permasalahan sampah di kawasan wisata ini meningkat signifikan saat musim liburan tiba. Pemandangan sampah dimana-mana, selain memberikan view negaif sampah  juga menimbulakan bau yang tidak sedap. Gangguan bau yang menusuk dan pemandangan (keindahan/kebersihan) sangat menarik perhatian panca indera. Begitu dominannya gangguan bau dan pemandangan dari sampah inilah yang lebih mengancam kelangsungan tempat wisata ini.

Permasalahan utama yang muncul di kawasan wisata ini sudah sangat jelas, yaitu rendahnya sistem pengelolaan dan pengolahan sampah. Sampah yang menumpuk dibiarkan berhari-hari, kurangnya fasilitas berupa tempat sampah menjadi kendala utama dalam kasus ini, karena budaya serta perilaku masyarakat yang belum bisa sadar akan pentingnya lingkungan hidup.

2

Gambar 2. Batas wilayah wana wisata Gunung Klotok

Sumber: https://maps.google.com

Kawasan ini terdiri dari beberapa objek wisata, antara lain, sebagai berkut:

  1. Museum Airlangga
  2. Water park
  3. Wisata Goa Selomangleng
  4. Wahana permainan

Sistem pengelolaan dan pengolahan sampah di lapangan sangat minim dan terbatas. Tumpukan sampah menyebar hampir di seluruh kawasan wisata. Tumpukan sampah signifikan meningkat saat musim liburan. Fasilitas tempat sampah yang tersedia sangat terbatas dan tidak layak. Pengunjung cenderung membuang sampah sembarangan seperti di pot-pot bunga, kolam air mancur, dan selokan. Lebih mengenaskan lagi dampak dari pengelolaan sampah yang kurang, di warung apung yang seharusnya terdapat kolam ikan di bawah tempat makan, kolam tersebut beralih fungsi menjadi tempat sampah. Hasil pengamatan menunjukkan, para pengunjung warung apung langsung membuang sampah makanan seperti plastik pembungkus, sisa makanan dan lain-lain langsung ke bawah tempat mereka makan. Hal ini disebabkan pula karena terbatasnya jumlah bak sampah di spot tersebut.

Tumpukkan sampah mulai terlihat dari area parkir (Gambar 3.). Area parkir yang padat saat musim liburan menjadi indikasi meningkatnya jumlah pengunjung. Hal ini menunjukkan bahwa volume sampah di kawasan tersebut juga akan meningkat. Di area parkir juga tidak ditemukan bak sampah, sampah dibiarkan berserakkan begitu saja. Sampah yang sudah disapu oleh petugas hanya dikumpulkan atau ditumpuk di celah-celah tertentu. Pemandangan yang tidak lazim diperlihatkan dengan adanya gerobak sampah yang sudah penuh di area parkir. Gerobak sampah yang sudah penuh dibiarkan sampai menimbulkan bau tidak sedap.

3

Gambar 3. Sampah di area parkir

Lokasi amatan selanjutnya adalah jalur pedestrian dari tempat parkir menuju taman bermain pembuka. Jalur pedestrian tersebut diperuntukkan untuk dua jalur. Di bagian tengahnya terdapat pot pohon yang panjang. Pemandangan yang tidak sedap juga terlihat pada area ini. Banyak pengunjung yang duduk-duduk di atas pot untuk sekadar istirahat atau menunggu. Kegiatan yang dilakukan pengunjung tidak hanya duduk saja, dampak dari kegiatan tersebut adalah serakan sampah di pot. Pengunjung membuang sampahnya di pot pohon karena di area ini tidak ditemukan bak sampah yang memadai (Gambar 4.).

4

Gambar 4. Sebaran sampah di pot pohon

Selokan yang ada di area taman tidak berfungsi sebagaiman mestinya. Tumpukkan sampah juga terlihat di dalam selokan dan di sekitar selokan (Gambar 5.). Tidak hanya itu saja, selokan juga menjad sarana anak kecil melakukan BAK (Buang Air Kecil). Bau yang ditimbulkan dari selokan ini tidak lagi aroma sampah, namun gabungan dari sampah dan bekas BAK.

5

Gambar 5. Tumpukan sampah di selokan dan sekitarnya

Tumpukkan sampah juga terlihat di area taman bermain. Area bermain yang seharusnya asri dan indah, dipenuhi oleh sampai (Gambar 6.). Di bagian area istirahat untuk duduk pengunjung juga terdapat tumpukkan sampah. Pengunjung seakan tidak peduli dengan pemandangan yang ada, mereka seakan menikmati suguhan pemandangan sampah ini. Permasalahan utama yang terjadi adalah sama dengan spot-spot sebelumnya, yaitu tidak terdapat fasilitas tempat sampah yang memadai.

6

Gambar 6. Area taman bermain yang dipenuhi sampah

Di dalam kawasan wana wisata Gunung Klotok, terdapat satu spot yang cukup bersih. Spot tersebut adalah area wisata Museum Airlangga (Gambar 7.), namun tempat sampah yang tersedia hanya ada satu di bagian depan. Hal ini karena minat pengunjung yang kurang untuk melakukan wisata sejarah di museum ini.

7

Gambar 7. Museum Airlangga, spot terbersih di dalam kawasan

Spot selanjutnya yang diamati adalah pedestrian menuju pusat dari kawasan wisata, yaitu area Goa Selomangleng. Sepanjang pedestrian pengunjung disuguhi dengan pemandangan wisata pujasera yang cukup menarik dan tertata. Hanya saja, permasalahan utama muncul lagi di spot ini. Kurangnya fasilitas tempat sampah membuat tempat ini terkesan kumuh (Gambar 8.). Kurangnya kesadaran pembeli dan penjual saat membuang sampah sangat memprihatinkan. Tidak ada kesadaran mandiri dari pembeli untuk menyediakan tempat sampah, sehingga saluran air pun dipenuhi oleh sampah.

8

Gambar 8. Sebaran sampah di area pujasera

Untuk bisa menuju ke Goa Selomangleng, pengunjung harus melewati tangga batu sekita 30 meter. Konsep penataan yang bagus tidak diimbang dengan pemandangan yang muncul. Sampah berserakan dimana-mana, di anak tangga pertama pengunjung sudah dihadapkan dengan tumpukkan sampah berupa pembungkus makanan (Gambar 9.). Di area ini juga tidak ditemukan adanya tempat samapah, hal inilah yang menjadi penyebab pengunjung dan penjual membuang sampah sembarang.

9

Gambar 9. Tumpukkan sampah di area jalan masuk menuju wisata Goa Selomangleng

Amatan selanjutnya dilakukan di bagian tengah area pedestrian menuju Goa Selomangleng. Pemandangan serupa (serakan sampah) juga ditemui di area ini. Pengunjung membuang sampah di celah yang ada pada dinding pembatas tangga dengan taman. Di area sepanjang ± 30 meter ini hanya terdapat satu keranjang sampah (Gambar 10.). Hal ini membuat pengunjung yang telah beada di atas malas untuk kembali hanya untuk membuang sampah. Pengunjung akhirnya memilih untuk memanfaatkan celah-celah yang ada.  Di area taman atau hutan buatan terdapat tumpukkan sampah yang dibiarkan begitu saja hingga terjadi peruraian sampah organik melebur dengan tanah. Hanya saja sampah plastik dan botol tidak bisa terurai (Gambar 11.)

 10

Gambar 10. Tumpukkan sampah di celah dinding pembatas

11

Gambar 11. Tumpukkan sampah di area taman dekat Goa Selomangleng

Pusat dari kawasan wisata ini adalah Goa Selomangleng. Sebagai pusat dari kawasan, area ini tidak luput dari pemandangan sampah yang berserakan dan menumpuk (Gambar 12.). Kreativitas pengunjung dalam memanfaatkan celah kosong sebagai tempat sampah sangat terlihat jelas pada area ini. Celah batu yang merupakan bagian dari goa juga dimanfaatkan pengunjung untuk tempat sampah. Hal ini sangat disayangkan karena area goa dan taman merupakan inti atau pusat dari wisata kawasan. Keberadaan Goa Selomanglang telah menjadi magnet dari kawasan. Hanya saja kurangnya perawatan serta kepedulian baik pengelola maupun pengunjung membuat kawasan ini menjadi kumuh.

12

Gambar 12. Tumpukkan sampah di area Goa Selomangleng

Di area sekitar Goa Selomangleng terdapat taman bermain dengan konsep natural. Sama halnya dengan spot-spot lainnya, tumpukkan sampah juga terlihat di area ini (Gambar 13.). Sampah yang sudah menumpuk dibiarkan begitu saja oleh pengelola kawasan wisata. Dari hasil amatan di area ini, tidak ditemukan keranjang/bak sampah. Seperti kasus-kasus sebelumnya, hal inilah yang menyebabkan pengunjung membuang sampah secara sembarang, selanjutnya tidak ada tindakan signifikan dari pengelola kawasan wisata  ini.

 13

Gambar 13. Tumpukkan sampah di taman dekat Goa Selomangleng

Spot menarik lain di kawasan ini adalah kolam air mancur. Kolam ini merupakan pusat dari area wahana permainan. Pemandangan negatif berupa sampah yang berserakan muncul pada spot ini (Gambar 14.). Para pengunjung membuang sampah di bagian kolam, sehingga air kolam menjadi keruh dan kotor. Sampah juga dibuang di bagian pot-pot tiang penyangga atap. Di area ini hanya terdapat satu bak sampah, bak sampah ini pun tidak mampu mewadahi sampah pengunjung saat musim liburan tiba. Kolam air mancur ini sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, air mancur yang seharusnya menyala tidak dinyalakan oleh pengelola. Rendahnya sistem pengelolaan dan pengolahan sampah sangat terlihat jelas di area ini, kolam yang dahulunya dihuni ikan-ikan hias kini dihuni oleh sampah-sampah sisa pembungkus makanan yang terbuat dari plastik.

14

Gambar 14. Tumpukan sampah di spot air mancur

Pemandangan yang menarik juga dijumpai pada area Rumah Makan Apung. Rumah makan ini mengangkat konsep terpaung di atas kolam ikan. Hanya saja, fungsi kolam ikan yang tidak dikelola dengan baik telah menjadikan kolam ini sebagai tempat sampah. Sampah berasal dari pengunjung rumah makan apung. Pengunjung membuang sampah sisa atau pembungkus makanan ringan langsung ke bagian bawah tempat makan (Gambar 15.). Selain alih fungsi kolam sebagai tempat sampah oleh pengunjung, tumpukkan sampah juga terdapa di bagian belakang rumah makan. Sampah yang menumpuk dibiarkan begitu saja oleh pengelola tempat sampah. Pembiaran tumpukkan sampah ini bisa menjadi dampak negative terhadap kesehatan. Pembeli membeli makanan di tempat ini, bisa jadi makanan yang dikonsumsi tercemar bakteri dan kuman yang ditimbulkan dari tumpukkan sampah.

15

Gambar 15. Sampah di kolam rumah makan apung

Sampah berserakan juga menjadi pemandangan umum di area taman bermain (Gambar 16.). hal ini seharusnya tidak terjadi, karena user pada area ini kebanyakan adalah anak-anak usia sekolah dasar. Celah-celah yang ada dimanfaatkan pengunjung sebagai tempat sampah. Di area yang cukup luas ini tidak ditemukan tempat sampah dengan jumlah yang cukup (Gambar 17. s/d 18.).

16

Gambar 16. Tumpukkan sampah di area bermain anak

17

Gambar 17. Pemanfaatan celah-celah kosong untuk membuang sampah

18

Gambar 18. Tumpukkan sampah di area bermain anak

Tempat sampah yang tersedia d kawasan wisata ini selalu penuh dan bahkan kurang. Beberapa jenis tempat sampah (Gambar 19.) yang ada di kawasan wisata ini antara lain: pertama adalah tempat sampah dari tong, tempat sampah jenis ini menurut pengamatan yang dilakukan mudah mengalami kerusakan karena perubahan iklm. Jenis yang kedua adalah bak sampah berbahan bak karet. Tempat sampah ini cukup awet, hanya saja ukurannya yang kecil sehingga tidak bisa menampung sampah yang dihasilkan pengunjung. Jenis tempat sampah yang ketga adalah keranjang bambu, keranjang ini bersifat rapuh dan mudah rusak karena tidak bisa menampung berat sampah yang terlalu banyak.

19

Gambar 19. (1) Tempat sampah tong;

(2) Tempat sampah ban karet; (3) Tempat sampah keranjang bambu

Pengelolaan sampah dibutuhkan penerapan prinsip-prinsip reduce, reuse, dan recycle. Reduce artinya kita mengurangi timbulan sampah yang terjadi dari aktivitas kita. Reuse ditujukan untuk menggunakan ulang sampah yang masih bisa dimanfaatkan, seperti penggunaan kantong plastik secara optimal dan berulang-ulang. Jikapun harus ada sampah yang timbul, maka sampah tersebut harus didaur ulang, diurai agar menjadi bahan dasar yang dapat dipergunakan lagi atau setidaknya tidak merusak alam. Paradigma bahwa sampah adalah sesuatu yang tidak berguna dan harus dibuang harus diubah bahwa sampah memiliki nilai ekonomi yang bisa didayagunakan dan memberikan keuntungan apabila dikelola dengan baik dan benar.

Pengelolaan sampah secara terpadu harus mensinergikan beberapa aspek yang terkait, mulai dari aspek hukum, kelembagaan, pendanaan, sosial budaya dan teknologi.  Dari sisi aspek hukum, diperlukan landasan peraturan perundang-undangan yang mencukupi, mampu laksana dan disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat luas. Negara kita sebenarnya telah memiliki Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Sampah. Hanya saja sangat disayangkan bahwa masyarakat luas tidak mendapatkan sosialisasi yang baik dan memadai. Di samping itu perangkat aturan yang lebih rendah, seperti peraturan pemerintah, peraturan menteri terkait, hingga perda, juklak dan juknis belum tersedia secara lengkap. Demikian halnya sistem kelembagaan, penyadaran sosial budaya masyarakatpun belum tertangani memadai.

Permasalahan pokok yang terdapat di kawasan wana wisata Gunung Klotok adalah sampah. Hal ini ditunjukkan dari hasil amatan yang dilakukan di lapangan saat musim liburan. Saat musim liburan sampah meningkat signifikan, ketersediaan tempat sampah yang sangat minim menjadi kendala utama. Spot-spot utama di kawasan wisata ini, seperti Goa Selomangleng, kolam air mancur, area bermain anak, dan rumah makan apung tidak luput dari pemandangan tumpukkan sampah. Tidak ada kesadaran dari pedagang untuk menyediakan tempat sampah secara mandiri. Celah-celah yang ada dimanfaatkan pengunjung untuk membuang sampah. Kurangnya peran pengelola dalam pengelolaan dan pengolahan sampah dsangat terbatas. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah tempat sampat yang sangat sedikit untuk area yang cukup luas. Peraturan tertulis yang tegas untuk sampah juga tidak ditemukan di kawasan ini. Hal inilah yang membuat pengunjung bisa seenaknya membuang sampah.

Permasalahan sampah, masih terbatas kepada aspek teknologi. Namun semestinya permasalahan sampah hanya bisa tertangani dengan baik apabila semua aspek dikelola secara baik, terpadu dan sinergis. Di dalam kawasan ini perlu adanya penambahan jumlah tempat sampah. Di dalam kawasan ini belum ada peraturan tegas untuk sampah, oleh karena itu perlu adanya peraturan tertulis yang tegas di kawasan wisata ini untuk menjaga kebersihan lingkungan. Di sinilah peran para pengelola, pengunjung, dan pelaku bisnis diharapkan dapat turut menyebarluaskan informasi kepada kalangan yang lebih luas untuk menanamkan kesadaran, keprihatinan bersama yang kemudian diharapkan bisa terwujud gerakan bersama untuk membersihkan lingkungan. Tidak terhenti sampai di sini, gerakan ini diharapkan bisa menjadi kebiasaan bersama dan lambat laun menjadi budaya positif. Cara pengendalian sampah yang paling sederhana adalah dengan menumbuhkan kesadaran dari dalam diri untuk tidak merusak lingkungan dengan sampah. Selain itu diperlukan juga kontrol sosial budaya masyarakat untuk lebih menghargai lingkungan. Peraturan yang tegas dari pemerintah juga sangat diharapkan karena jika tidak maka para perusak lingkungan akan terus merusak sumber daya.

One Comment

Leave a Comment
  1. salikun / Jun 10 2014 3:10 pm

    kalo menurut sy bukan buruknya sestem ,,,,,,,,tetapi caranya yg TIDAK MENGARAH,krn kalo betul arahnya pasti berhasil,jelasnya atasi sampah yg sama skali tdk dpt dimanfaatkan itu yg seharusnya dan sampah yg msh bisa dimanfaatkan biarkan aja sdh berjalan mulus,bukan sekedar berkomentar sy sdh ratusan tempat yg sy bantu dan semua behasil atasi sampah yg ada,bila berkenan(buka)http://teknologitpa.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: