Skip to content
February 1, 2012 / anisahnurfajarwati

Perjalanan Sejarah Bank Indonesia Cabang Malang

BI (Javaansche Bank)

Malang merupakan sebuah karesidenan yang terbentuk pada tahun 1926, kemudian pada tahun 1928 Malang memiliki kantor pemerintahan sendiri. Malang merupakan daerah dengan iklim yang cocok untuk bercocok tanam, sehingga pada saat itu Malang merupakan salah satu kota dengan pendapatan ekonomin yang berasal dari sektor perkebunan (kopi, kina dan lain-lain). Akibat pertumbuhan ekonomi tersebut muncullah berbagai pembangunan di kota Malang salah satunya yaitu bagunana bank. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda di kota Malang diperkirakan terdapat dua bank besar di kawasan alun-alun kotak yaitu Javasche Bank (BI) dan Escomto (Bank Mandiri). Kedua bank ini sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya perekonomian di kota Malang yang kaya akan hasil perkebunannya. Hampir seluruh Javasche Bank (BI) menggunakan bangunan bersejarah peninggalan Belanda, Javasche Bank (BI) kota Malang diperkirakan berdiri tahun 1915 dan diresmikan pada tanggal 1 Desember 1915 setelah gedung Javasche Bank di kota-kota lainya selesai dibangun.

(Alon-alon, posisi BI pada pojok utara-timur)

Banyak kemungkinan tentang batasan luas wilayah Javasche Bank (BI) di masa lalu. Kemungkinan pertama Conscordia (Sarinah) merupakan batas barat wilayah Javasche Bank (BI). Kemungkinan kedua Kantor Pajak juga dulunya merupakan wilayah Javasche Bank (BI) karena  letaknya yang berdekatan dan fungsi bangunannya juga sama.

(Societiet Harmonie (barat), Kantor Pajak (tengah) dan BI (timur))

Segi fisik arsitekturalnya, bangunan Javasche Bank (BI) relatif tidak mengalami perubahan, perubahan yang terjadi hanyalah pergantian cat yang telah kusam. Perubahan lain yang terjadi adalah pergantian material asli atap dengan material baru setelah terjadi peristiwa pembakaran bangunan-bangunan publik Belanda di Malang pada Desember 1947, namun karena memiliki dinding yang tebal akhirnya yang terbakarhanya atapnya saja.Pembakaran tersebut dilakukan karena penduduk kota Malang takut Belanda akan kembali ke Indonesia. Setelah kejadian tersebut diperbaiki kembali pada 31 Juli 1947. Pemugaran (restorasi) resmi dilakukan pada tahun 1950-an setelah kondisi Replubik Indonesia stabil, selain itu juga terbentuknya Undang-Undang Gula dan Agraria sehingga membuat kota Malang perlahan kembali mengalami pertumbuhan ekonomi. Pemugaran selanjutnya terjadi  pada tahun 1970-an.

(BI terbakar pada Perang Revolusi Kemerdekaan)

Sumber:

-Hasil wawancara dengan Bpk. Dwi Cahyono

-Widodo, DI. 2006. Malang Tempo Doeloe Djilid Satoe. Malang: Bayumedia Publishing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: