Skip to content
December 29, 2011 / anisahnurfajarwati

Venustas Arsitektur Di Alam Semesta

Di dalam kehidupan ini manusia merupakan subyek dan obyek pembangunan. Manusia dikaruniai akal yang sempurna untuk dapat mengelola alam semesta dengan baik. Alam semesta telah menunjukkan pada kita berbagai macam kejadian. Seperti dituangkan pada QS Al Baqarah 164, bahwa semesta adalah bagian dari ayat-ayat, tanda-tanda dari Allah SWT agar kita sebagai manusia mau berpikir. Namun, banyak dari manusia yang melalaikan hal tersebut, mereka asyik menyibukkan diri dengan kehidupan yang hedon dan cenderung meremehkan fenomena-fenomena alam semesta yang merupakan tanda kekuasaan Allah SWT.

Temuan-temuan para ahli di bidangnya sering kali diagung-agungkan padahal jauh sebelum mereka menemukan, Allah SWT telah menuliskannya dalam Al Quran. Dalam bidang arsitektur, menurut ahli arsitektur dari negeri barat yaitu Vituvrius dalam bukunya yang berjudul Ten Books on Architecture (Book I Chapter III), arsitektur meliputi tiga aspek yaitu firmitas (kekokohan), utilitas (kegunaan), dan venustas (keindahan). Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan menjadi satu kesatuan dalam seni bangunan “The art of building”. Dan ketiga hal itu telah Allah SWT tulis dalam Al Quran secara implisit, yaitu dengan sarang hewan-hewan yang menjadi judul surat di Al Quran. Al Quran mengabadikan lima hewan luar biasa dengan menjadikannya judul sebuah surat, yatu: An Nahl (lebah), An Naml (semut), Al Ankabuut (laba-laba), Al ‘Adiyyat (kuda perang), dan Al Fiil (gajah). Tetapi hanya tiga dari mereka yang disinggung soal sarangnya. Mereka adalah lebah, semut, dan laba-laba. Salah satu fenomena cukup menarik yang ditunjukkan oleh alam semesta ini adalah tentang kehidupan lebah khususnya dalam bidang arsitektur.

Sungguh tiadalah sebanding apa yang telah Allah SWT lakukan dalam kehidupan di alam semesta ini. Tentang apa yang telah Dia tentukan dalam kodrat setiap hamba yang menjalani kehidupannya masing-masing. Contohnya saja, ada makhluk kecil lebah yang ternyata memiliki kemampuan luarbiasa sehingga manusia pun harus berlajar dari mereka. Setiap detil perilaku dan hasilya tidak perlu dipertanyakan lagi karena begitu akurat.

(sarang lebah madu)

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl: 68-69)

Lebah mengambil yang baik dengan cara yang baik dan menghasilkan yang baik. Penelitian ilmiah terkini mengungkapkan bahwa untuk memproduksi setengah kilogram madu, lebah harus mengunjungi sekitar empat juta kuntum bunga. Sungguh perjuangan yang berat dan panjang, apalagi itu semua dipersembahkan lebah untuk manusia.

Selain madu yang bermanfaat, lebah memiliki sarang yang begitu indah dan menkjubkan. Sarang berbentuk segi enam atau heksagonal dibuat dan dirangkai secara berulang membentuk suatu komposisi yang menarik dengan proporsi yang tepat.

Di dalam bukunya Vitruvius mengungkapkan: “…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry.” Vitruvius menganggap proporsi dan simetri merupakan faktor yang mempengaruhi keindahan. Ia mendasarkan hal ini pada tubuh manusia yang setiap anggota tubuhnya memiliki proporsi yang baik terhadap keseluruhan tubuh dan hubungan yang simetrikal dari beberapa anggota tubuh yang berbeda ke pusat tubuh.

Selain itu, seperti yang telah disebutkan oleh Vitruvius juga, arsitektur yang baik memperhatikan ketiga aspek itu. Memang yang menonjol dari sarang lebah adalah keindahan (venustas), namun bukan berarti tidak kuat dan tidak berfungsi. Lebah madu hidup sebagai koloni dalam sarang yang mereka bangun dengan sangat teliti. Dalam tiap sarang terdapat ribuan kantung berbentuk heksagonal atau segi enam yang dibuat untuk menyimpan madu. Menurut ahli matematika, cara terbaik membangun gudang simpanan dengan kapasitas terbesar dan menggunakan bahan bangunan sesedikit mungkin adalah dengan membuat dinding berbentuk heksagonal. Andaikan lebah membangun kantung-kantung penyimpan tersebut dalam bentuk lain, akan terbentuk celah kosong di antara kantung satu dan lainnya atau lebih sedikit madu tersimpan di dalamnya.

(perbandingan bentuk heksagonal dengan bentuk yang lain)

Kemudian, yang menarik lagi adalah ketika proses konstruksi dari sarang lebah. Mereka memulai membangun sarangnya dari titik yang berbeda-beda. Ratusan lebah menyusun rumahnya dari tiga atau empat titik awal yang berbeda. Mereka melanjutkan penyusunan bangunan tersebut sampai bertemu di tengah-tengah. Tidak ada kesalahan sedikitpun pada tempat di mana mereka bertemu. Ahli matematika menyadari satu hal terpenting. Dari semua bentuk geometris tersebut, yang memiliki keliling paling kecil adalah heksagonal.

Karena alasan inilah, walaupun bentuk-bentuk tersebut menutupi luasan areal yang sama, material yang diperlukan untuk membangun bentuk heksagonal lebih sedikit dibandingkan dengan persegi atau segitiga. Singkatnya, suatu kantung heksagonal adalah bentuk terbaik untuk memperoleh kapasitas simpan terbesar, dengan bahan baku lilin dalam jumlah paling sedikit.

Lebah juga menghitung besar sudut antara rongga satu dengan lainnya pada saat membangun rumahnya. Suatu rongga dengan rongga di belakangnya selalu di bangun dengan kemiringan tiga belas derajat dari bidang datar. Dengan begitu, kedua sisi rongga berada pada posisi miring ke atas. Kemiringan ini mencegah madu agar tidak mengalir keluar dan tumpah.

(pengisian madu ke sarang lebah)

Satu lagi kenyataan yang menakjubkan dari sarang lebah adalah pada kenyataanya sarang lebah sangatlah steril dan bersih. Ini telah dibuktikan oleh penelitian, bahkan sarang lebah diyakini lebih steril dibandingkan dengan ruang/kamar operasi sekalipun.

Tidak hanya lebah madu saja yang memiliki kemampuan arsitektural yang menakjubkan, lebah liar pembuat kertas juga memilikinya. Spesies lebah ini mengunyah kayu dan menggu-nakannya untuk membuat selulosa, yakni kertas, di dalam mulutnya. Lalu ia menggunakan kertas ini untuk membangun sendiri sarangnya yang melingkar.

Ia membuat kantung-kantung heksagonal-persis seperti pada lebah madu-dari kertas yang ia rekatkan pada bagian dalam atap rumah. Ia menempatkan satu telur pada masing-masing heksagon pada atap rumah. Sekitar tiga minggu kemudian, larva menetas dari telur-telur tersebut. Larva ini menunjukkan kecerdasan yang mengejutkan dengan menutup lubang kantung yang sengaja dibiarkan terbuka oleh induknya. Dengan cara demikian, mereka menghindarkan diri jatuh ke lantai karena beban tubuh mereka. Setelah tumbuh beberapa minggu, mereka muncul dari dalam kantung sebagai lebah liar dewasa.

Lebah liar muda ini tidak menyia-nyiakan waktu dalam menjalani kehidupan. Setiap kewajiban yang harus mereka kerjakan telah diilhamkan dalam diri mereka oleh Pencipta mereka, yakni Allah SWT. Lebah muda tersebut memperbesar bangunan yang telah dimulai oleh induk-nya. Pada akhirnya, koloni yang lebih besar muncul. Sarang lebah tersebut kini telah menjadi sebuah blok apartemen bertingkat. Setiap lebah liar yang lahir di sini akan patuh secara penuh pada ilham yang diberikan kepadanya.

Struktur heksagonal sarang lebah telah dimanfaatkan untuk bangunan tinggi yang terletak di Tinajin yaitu Sino Steel International Plaza. Ketinggian bangunan ini mencapai 358 m dan terdapat sebuah hotel di sebelahnya (dengan bentuk yang sama) dengan ketinggian sekitar 87 m. Penggunaan jendela pada bangunan ini terdiri dari 5 ukuran ini akan memaksimalkan sinar matahari yang masuk sehingga dapat mengurangi penggunaan lampu di dalam gedung serta struktur bangunan dengan bentuk honeycomb ini juga berfungsi sebagai pilar gedung yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan pilar di dalam bagian gedung (memaksimalkan setiap ruangan di dalam gedung).

(Sino Steel International Plaza)

Vitruvius telah membawa konsep yang jauh sebelum dia terlahir ke bumi, konsep itu telah ada melalui makhluk kecil ciptaan Allah SWT, sehingga konsep tersebut bisa diterapkan di dalam dunia keilmuan arsitektur. Pemaknaan lebih dalam kepada keilmuan Arsitektur, sejatinya akan mengantarkan manusia kepada kesadaran yang lebih tinggi (transendensi) akan keesaan dan kebesaran Allah SWT. Pada akhirnya, keilmuan menjadi penguat dan penegak keyakinan agama. Ya, Arsitektur adalah ilmu dari Allah (Reza PH, 2010).

(saya coba paparkan dalam bentuk poster, dan inilah hasilnya… :D)

Sumber:

http://rezaprimawanhudrita.wordpress.com

http://komda-fast.web/index-komda/2010/03/lebah-madu-sang-arsitek.php.htm

http://yuliaonarchitecture.wordpress.com/2009/03/10/membaca-konsep-arsitektur-vitruvius-dalam-al-quran/

http://yurizone.wordpress.com/2009/12/13/keajaiban-dari-sarang-lebah/

http://oediku.wordpress.com/2010/07/27/Arsitek-dan-teknologi-dari-hewan-mengalahkan-kemampuan-terbaik-manusia.htm

http://archirecord.blogspot.com/2008/08/aplikasilebah/mad-tianjin-project-sinosteel.html

One Comment

Leave a Comment
  1. arsitekperadaban / Apr 25 2012 2:44 am

    wow…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: